Wednesday, 3 December 2008

Perfeksionis itu dilarang

Perfeksionisme adalah keyakinan bahwa seseorang harus jadi sempurna,
mencapai kondisi terbaik pada aspek fisik ataupun non-materi. Perfeksionis
adalah orang yang memiliki pandangan perfeksionisme.

Pada bentuknya sebagai penyakit, perfeksionisme dapat menyebabkan seseorang
memiliki perhatian berlebih terhadap detil suatu hal dan bersifat
obsesif-kompulsif , sensitif terhadap kritik, cemas berkepanjangan, keras
kepala, berpikir sempit dan suka menunda. Hal-hal yang dapat menghambat
keberhasilan dalam hal apapun. Orang yang potensial namun perfeksionis akan
terhambat kemampuannya. Hasrat menciptakan produk, website atau konten
terbaik adalah hal yang perlu, namun seorang perfeksionis akan menemukan
banyak rintangan yang sama sekali tidak perlu.

Saya akan mengaitkan seluruh artikel ini dalam konteks bisnis online,
walaupun prinsipnya dapat diterapkan pada semua hal.

Daripada terobsesi pada kualitas konten dengan “memoles” ulang artikel yang
sama berkali-kali sampai banyak membuang waktu, lebih baik publish saja
artikel tersebut dan terima apa adanya. Anda tidak harus menjadi penulis
artikel terbaik yang pernah ditulis. Jangan sampai harapan/pandangan dari
pembaca atau customer anda menjadi beban mental yang sebetulnya mungkin
hanya ada dalam pikiran sendiri

Masalah perfeksionis adalah tindakannya yang cenderung suka menunda-nunda
dan akhirnya capai sendiri. Obsesinya akan kesempurnaan menjadi beban
pikiran dan meletihkan perasaannya. Orang perfeksionis akan cepat kehabisan
energi karena terus cemas tentang bagaimana menyempurnakan website-nya atau
berpikir seandainya dulu saya begini atau begitu.

Ya, saya tahu karena saya juga perfeksionis, :) khususnya saat membuat blog
atau konten untuk blog saya sendiri, karena saya menganggap ini proyek
pribadi dan harus sempurna. Saya sering berpikir terlalu keras tentang cara
terbaik mewujudkan ide, atau mencari-cari ide yang orisinil dan belum pernah
dibuat orang sama sekali. Ini justru memperlambat dan akhirnya berbagai
pekerjaan malah tertunda. Membuang waktu yang seharusnya bisa digunakan
untuk lebih produktif.

Sekarang saya mulai tidak terlalu memikirkannya. Dulu saya bisa saja
mengedit ulang selama ratusan jam tentang berbagai hal kecil pada artikel
atau desain blog yang saya buat, namun akhirnya orang tetap menemukan
kesalahan di dalamnya, atau justru tidak peduli sama sekali.

Keinginan agar orang lain setuju dan seketika terikat dengan keyakinan
pribadi kita adalah akibat dari perfeksionisme yang bersifat patologis
(penyakit). Pahami bahwa persepsi orang lain adalah sesuatu yang dapat
dikelola dan diberi reaksi seiring dengan waktu. Anda bisa mengubah seorang
musuh menjadi teman bahkan believer dengan memberi respon positif pada
masukannya dan mengadaptasi produk/website agar dapat memenuhi kebutuhan
user secara bertahap.

Anda tidak bisa memuaskan semua harapan orang, apalagi secara instan. Tidak
bisa dan tidak harus. Setiap website akan memiliki kesesuaian “frekuensi”
dengan pembacanya yang menemukan bahwa website tersebut relevan dengan apa
yang dia cari dan butuhkan. Core audience adalah testing ground untuk
inovasi dan sumber umpanbalik yang sangat berharga.
Bereaksi secara tepat pada audience, kembangkan hal-hal positif dan
minimalkan yang negatif. Ingat, respon orang lain tidak bisa kita
kendalikan, tapi kita bisa mengendalikan reaksi diri kita. Kurangi
kekhawatiran akibat visi kesempurnaan, karena pandangan singular (satu arah)
dari posisi anda sangatlah terbatas. Gunakan hasrat untuk menjadi sempurna
sebagai alat motivasi dan bukan menjadi hambatan psikologis. Jangan harapkan
kesempurnaan, baik pada kesempatan pertama dan bahkan setelah melalui jalan
panjang.

Kalau punya ide bagus, buatlah action plan dan wujudkan ide tersebut
secepatnya. Loic de Meur, seorang entrepreneur Perancis kemarin menulis
tentang ten rules for startup success, beberapa tips-nya cukup relevan
dengan artikel ini:

* Don’t wait for a revolutionary idea. It will never happen. Just
focus on a simple, exciting, empty space and execute as fast as possible.
* Don’t spend time on market research. Launch test versions as early
as possible. Keep improving the product in the open.
* Don’t obsess over spreadsheet business plans. They are not going
to turn out as you predict, in any case.
* Don’t plan a big marketing effort. It’s much more important and
powerful that your community loves the product.
* Don’t focus on getting rich. Focus on your users. Money is a
consequence of success, not a goal.

Khusus tentang bisnis internet, sebagian netter sering mengabaikan fakta
sederhana: kalau ingin mendapat income dari internet, anda sebetulnya tidak
perlu ide unik yang belum pernah dibuat orang dan anda tidak perlu website
yang didesain dan dioptimasi secara sempurna. Saya ingin mengambil contoh
dari negeri ini sendiri yaitu web Cosa dan jaringan bisnisnya yang
disesuaikan secara bertahap. Hasilnya sudah dia nikmati sekarang (setidaknya
begitulah pengakuannya, karena saya belum pernah lihat ceknya :) ) dan
sepertinya masih akan berkembang.

Telah banyak contohnya, bahwa ide biasa atau rata-rata bisa menarik hasil
yang diharapkan. Perfeksionisme itu overkill, tidak diperlukan sama sekali.

Dikenal oleh calon audience berarti memenangkan setengah dari “perang“, jadi
yang diperlukan adalah lebih banyak bertindak (act) dan hilangkan rasa
khawatir karena ingin sempurna.

0 komentar: